Boom!!! Keheningan suasana malam itu terpecahkan
oleh suara tembakan mortar dari para pemberontak negeri itu. Aku langsung
terbangun ketika mendengar suara itu. Memang aku masih sering kaget dan takut
ketika mendengar suara senjata itu meskipun aku sudah tinggal lebih dari 2
minggu di negara ini.
“Sudahlah, kau tak usah terlalu takut, tempat penginapan kita ini
sudah dijaga Tentara Perdamaian PBB, jadi tidak mungkin pemberontak itu bisa masuk ke penginapan kita ini”
kata Budiman, rekan sesama relawan yang tinggal bersamaku di hotel ini.
“Yah, mudah saja kau mengatakan itu, kau kan sudah 5 bulan disini”
kataku jengkel.
“Nanti juga kau akan terbiasa, lebih baik kau segera tidur,
sepertinya besok kita akan sibuk” timpalnya.
“Yayayaya..” balasku malas.
Aku masih ingat sebulan yang
lalu ketika aku mendaftar jadi relawan untuk membantu negeri yang sudah porak
poranda akibat perang saudara yang tak henti-hentinya terjadi. 1 minggu sesudahnya
ketika aku mengatakan kepada keluargaku kalau aku menjadi relawan untuk negeri
itu, aku takut mereka akan menolaknya, tapi ternyata aku salah, ternyata mereka
sangat mendukung keputusanku. Mereka memang mengetahui kalau aku sangat
tertarik dalam hal
ini, karena menurut orang-orang di sekitarku, aku adalah orang yang berjiwa
sosial yang tinggi. Aku kembali mengingat masa ketika
aku hendak berangkat ke negeri ini, sebelum aku tertidur kembali.
Aku terbangun keesokan harinya
ketika rekan sekamarku membangunkanku.
“Bangun Nak, sudah saatnya kita bekerja” katanya.
Aku mulai mengingat jadwal dan teringat bahwa jadwal hari ini adalah
pembagian bantuan ke salah satu daerah di negeri itu. Aku segera mempersiapkan
diri. Ketika aku tiba di depan hotel, ternyata sudah banyak relawan lain
disana. Aku berkenalan dengan salah satu relawan dari negaraku yang bernama
Maria dan Josie, mereka berdua adalah pasangan suami istri. Sepanjang
perjalanan aku melihat daerah-daerah yang aku lalui dan mencatatnya dalam buku
harianku. Ya, semua kegiatan dan pengalamanku aku tulis dalam sebuah buku
harian yang mungkin nantinya aku bisa jual. Aku memang bermimpi untuk membuat
sebuah buku. 30 menit berlalu akhirnya aku sampai di kamp pengungsian. Aku dan
Budiman kebagian tugas memberikan baju dan makanan untuk anak-anak disini. Aku
melihat Maria dan Josie sedang menghibur anak-anak. Josie pandai bermain sulap
sedangkan Maria memiliki suara yang indah. Memang suasana masih mencekam, aku
melihat banyak pasukan yang mengawal proses penyaluran ini, namun aku tidak melihat ketakutan di wajah anak-anak itu.
Ketika mengelilingi kamp itu, aku melihat ada seorang relawan yang mendapat
tugas menjadi dokter, sepertinya ia juga berasal dari negara yang sama
denganku, aku kaget melihat asistennya adalah seorang yang berkebangsaan
Inggris. Aku kaget melihat fakta ini karena kemampuan dokter dari negeriku
ternyata lebih baik dari negeri yang lebih maju, makmur dan sejahtera dari
negeriku, aku selalu berpikir kalau orang-orang dari negeriku tidak akan pernah
memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari negara-negara maju, namun ternyata
itu salah. Pembagian bantuan hari itu berjalan lancar, saya tidak melihat
satupun pemberontak yang melintas atau suara tembakan dari para tentara. Dalam perjalanan
pulang aku berbincang dengan dokter yang aku temui tadi.
“Hai, siapa namamu?” tanyaku
“Andi, Novandi.” jawabnya
“Oh, apa yang membawamu datang kesini?”
“Kemanusiaan, rasa kemanusiaan.”
Aku jadi teringat ketika teman-temanku bertanya apa alasanku datang
kesini. Meskipun orang tuaku menyetujui
kepergianku, tapi tidak dengan teman-temanku. Mereka banyak yang menghujatku.
“Untuk apa kau ikut campur dalam masalah orang lain?” kata salah
seorang temanku.
“Apakah kau pikir kau adalah pahlawan?” protes yang lainnya.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata mereka, mungkin mereka tidak
mengerti kalau ini adalah keinginanku. Ketika mereka menyuruhku menjawabnya aku hanya bisa menggeleng.
“Jadi, kau kesana hanya untuk dipanggil pahlawan?”
“Tidak!” aku mulai merasa kesal.
“Aku
kesana untuk kemanusiaan, apa kalian tidak miris ketika melihat saudara kalian
kelaparan disana sementara kalian bersenang-senang disini” jawabku kesal.
“Tapi tidak harus menjadi relawankan?”tanya seorang temanku, aku
kembali terdiam.
Aku terus memikirkan hal itu
sepanjang perjalanan pulang. Tanpa terasa kami telah sampai ke tempat
penginapan. Aku segera berbaring di tempat tidur untuk beristirahat sejenak.
Aku tertidur sekitar 1 jam, dan terbangun akibat bunyi rentetan senjata, bunyi
senjata itu berhenti setelah lebih dari 15 menit terdengar bunyi kontak
senjata. Setelah itu terdengar suara orang-orang berteriak dari bawah. Aku mengernyitkan
dahi, rekanku Budiman juga sepertinya mulai takut, aku melihat mukanya sudah
mulai pucat padahal biasanya ia yang paling tenang. Suara para pemberontak
mulai mendekat, kita berdua mulai gugup. Pintu kamar mulai didobrak oleh para
pemberontak. Tidak sampai 10 detik pintu itupun berhasil dirobohkan. Terlihat
di depan kita 2 orang pemberontak bersenjata lengkap sedang mengarahkan
senjatanya ke arah kita berdua. Mereka berteriak kepada kita berdua dengan
bahasa mereka. Aku tidak mengerti namun rekanku Budiman tau apa yang mereka maksud.
Mereka menyuruh kami kumpul di lantai bawah dan menunggu. Jarum-jarum jam pun
sepertinya berhenti berdetak, kurasakan waktu berjalan begitu lambat. 15 menit
berlalu dengan keheningan, aku melihat-lihat sekeliling ruangan, terdapat 1
orang pemberontak menjaga kita agar tetap tenang. Aku berbalik dan melihat
Novandi berjalan mendekat ke arahku.
“Mari buat rencana.”
“Aku sedang merencanakannya.” jawabku
“Aku dapat.” jawabnya meresponku dengan cepat
Ia segera berbisik kepadaku. Kulihat penjaga itu mulai mencurigai
kita.
“Apa kau yakin?”
“Sangat.” jawabnya percaya diri.
Kami menunggu sekitar 5 menit dan melihat para
pemberontak sudah turun dari lantai atas. Mereka berbicara kepada kami, tapi
aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Rekanku Budiman yang sudah berada
di sampingku segera mengatakan padaku kalau para pemberontak menyuruh kita
berkumpul di lantai atas dan mereka akan menjadikan kita sandera. Aku langsung
tersentak kaget karena itu sudah sesuai dengan apa yang dipikirkan Novandi. Aku
melihat ke arahnya dan ia tersenyum padaku. Pada saat para kita dibawa ke lantai atas, aku dan Andi
berada di barisan belakang agar dapat melaksanakan misi kita. Aku kaget ketika
melihat di sampingku Andi telah menghilang, sejurus kemudian penjaga yang dibelakangku
tadi juga menghilang. Aku segera
pergi mencari Andi yang tiba-tiba menghilang, saat aku menemukannya, aku sudah
melihatnya bersimbah darah dan di sampingnya tergeletak seseorang yang aku
yakini adalah pemberontak yang tadi ada dibelakangku
“Apa mereka mati?”
“Tentu saja, apa kau tidak
melihat banyaknya darah di bajuku.” jawabnya.
Aku hanya bisa ternganga. Kita mengambil 2 senjata
pemberontak dan pergi ke atas untuk menyelamatkan para sandera.
“Tunggu, apa kita tidak harus melapor kepada Pasukan PBB?”
“Ya, aku yang akan melapor.”
“Bagaimana caranya?”
Ia hanya terdiam dan aku pasti tau ia tidak bisa menjawabnya.
“Aku tidak tau caranya, sudahlah yang terpenting kita harus
menyelamatkan mereka dulu.”
“Oke.”
Kita naik ke lantai yang paling atas dan melihat para sandera sedang
dikumpulkan di suatu tempat. Dan melihat jumlah pemberontak sekitar 8 orang.
“Apa
kau tau cara menggunakan barang ini?” tanyaku.
“Tinggal
bidik dan tembak.”
“Begitu saja.”
“Sudahlah,
aku akan memberi aba-aba untuk menyerang.” Kata Andi memerintah.
“1, 2, serang”
Begitu mendengar aba-aba Andi, akupun langsung berdiri
dari tempat persembunyiaanku dan membantu Andi menyerang. Terdengar suara
tembakan dari segala arah, aku sudah tidak dapat melihat Andi, tapi aku melihat
seorang pemberontak telah gugur. Sementara itu para sandera terlihat mencari
tempat berlindung. Namun pada saat itu di salah satu sudut ruangan, aku
jelas-jelas melihat rekanku Budiman sedang tergeletak tak bernyawa. Seketika
itu juga badanku terasa lemas, Andi pun juga sudah tertangkap, dan terlihat
mulutnya mengeluarkan darah. Pada saat itu juga, dari arah tangga-tangga
datanglah 10 orang pemberontak. Mereka menodongkan senjata ke arahku. Tak
berapa lama salah satu dari meseka mengambil sebuah balok kayu dan menghajarku
tepat di wajah.
Aku ingat ketika pertama
kali tiba di negara ini, ketika itu aku takjub melihat pemandangan di kota ini,
begitu indah menurutku, pantai-pantai yang indah dan bersih, dan terdapat
beberapa gunung yang menjulang kokoh yang membuat negara ini semakin indah,
namun sayangnya keindahan negeri ini dirusak oleh sekelompok orang yang ingin
menggulingkan presiden di negeri ini. Akhirnya meletuslah perang saudara di
negeri ini. 3 tahun sudah berlalu namun perang ini belum berakhir hingga
membuat PBB sampai turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Aku
terbangun kira-kira 15 menit setelahnya, aku merasakan darah keluar dari mulut
dan pipiku, namun itu tak seberapa dibanding dengan Andi, kondisinya lebih
parah dariku, mukanya bersimbah darah, bajunya yang dulunya berwarna putih
sekarang sudah berubah menjadi merah. Para pemberontak berbicara kepada kita
dan mengatakan kepada kita kalau mereka ingin meminta tebusan untuk membebaskan
kita. Aku bepikir kalau para pemberontak itu bodoh, karena dengan meminta uang
tebusan maka PBB akan tau dan mengirim pasukan penyelamat. Dengan 2 orang yang
tidak memiliki sejarah militer saja bisa membunuh 3 orang, bagaimana dengan 1
peleton tentara, itu pikirku. Salah seorang dari pemberontak mengambil
handphone seseorang dan menelpon pusat pangkalan pasukan keamanan PBB.
Selanjutnya aku tidak tau apa yang mereka bicarakan karena orang itu telah
pergi meninggalkan ruangan. 15 menit kemudian ia kembali dan berbicara kepada
kita dengan menggunakan bahasa Inggris. Ia mengatakan kalau PBB setuju
melepaskan kita dengan imbalan 1 orang seharga USD 1 juta. Namun aku yakin
kalau para pemberontak itu akan menerima bonus yang lebih membuat mereka
terkejut, yah, apalagi kalau bukan pasukan khusus yang ditugaskan untuk
membebaskan kita. Paling tidak kita harus menunggu sekitaran 1 jam untuk
kedatangan mereka.
1 jam sudah berlalu dan
belum ada tanda-tanda kedatangan dari pasukan itu. Aku mulai ragu jika pasukan
yang membebaskan kami itu akan datang. 5 menit setelah itu aku mendengar suara
helikopter dari kejauhan, harapanku kembali timbul. Dari luar juga aku
mendengar suara beberapa mobil, mungkin juga itu mobil humvee milik para tentara. Suasana diantara para pemberontak pun
mulai tegang, tampak raut ketakutan muncul di wajah mereka.
Praang.. Kaca jendela di
sekeliling tempat kami pecah. Ternyata para pasukan memasuki tempat
penyanderaan kita melalui jendela, yang membuat para pemberontak terkejut. Baku
tembak di antara mereka pun tak terhindarkan. Banyak darah yang berceceran dan
suara teriakan dimana-mana. Di tengah kekacauan itu, di sudut ruangan terlihat
seseorang tergeletak, tampaknya sudah tak bernyawa. Aku begitu kaget ketika
menyadari baju yang ia kenakan, tak salah lagi, itu Novandi. Aku berlari menuju
arahnya, beberapa meter lagi sebelum sampai di tempatnya. Sebutir peluru
menghujamku tepat di lengan kananku, aku terjatuh seketika. Aku melihat darah
mulai membasahi lengan bajuku, perih sekali rasanya. Aku mencoba untuk bangkit kembali, namun sekali lagi sebutir peluru menghujamku
tepat di kakiku, dan sekarang aku benar-benar tergeletak tak berdaya. 5 menit
berlalu dan suasana terlihat sudah terkendali. Aku merasa di sinilah aku akan
berakhir, aku jadi teringat keluargaku dan teman-temanku, mereka mungkin akan
berharap aku kembali sama seperti saat aku pergi, tapi sepertinya aku kembali
dengan membawa oleh-oleh sebuah peti mati. Tampak seseorang datang ke arahku
dan ia tampak menutup lukaku dengan kain agar menghentikan pendarahanku,
setelah selesai ia memanggil rekan-rekannya yang lain, mereka menuju ke arahku
dengan membawa sebuah tandu, mereka mengangkatku dengan menggunakan tandu ke
sebuah mobil ambulans. Sepertinya nyawaku sudah terselamatkan, aku bersyukur
karenanya. Dan dalam perjalanan mobil ambulansku menuju ke satu-satunya rumah
sakit yang ada di negeri ini, aku berjanji, aku akan kembali ke
negara ini sebagai wisatawan, bukan sebagai relawan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar