Sabtu, 16 Februari 2013

Cerpen: Belum Ada Judul 1

Boom!!! Keheningan suasana malam itu terpecahkan oleh suara tembakan mortar dari para pemberontak negeri itu. Aku langsung terbangun ketika mendengar suara itu. Memang aku masih sering kaget dan takut ketika mendengar suara senjata itu meskipun aku sudah tinggal lebih dari 2 minggu di negara ini.
“Sudahlah, kau tak usah terlalu takut, tempat penginapan kita ini sudah dijaga Tentara Perdamaian PBB, jadi tidak mungkin pemberontak itu bisa masuk ke penginapan kita ini” kata Budiman, rekan sesama relawan yang tinggal bersamaku di hotel ini.
“Yah, mudah saja kau mengatakan itu, kau kan sudah 5 bulan disini” kataku jengkel.
“Nanti juga kau akan terbiasa, lebih baik kau segera tidur, sepertinya besok kita akan sibuk” timpalnya.
“Yayayaya..” balasku malas.

Aku masih ingat sebulan yang lalu ketika aku mendaftar jadi relawan untuk membantu negeri yang sudah porak poranda akibat perang saudara yang tak henti-hentinya terjadi. 1 minggu sesudahnya ketika aku mengatakan kepada keluargaku kalau aku menjadi relawan untuk negeri itu, aku takut mereka akan menolaknya, tapi ternyata aku salah, ternyata mereka sangat mendukung keputusanku. Mereka memang mengetahui kalau aku sangat tertarik dalam hal ini, karena menurut orang-orang di sekitarku, aku adalah orang yang berjiwa sosial yang tinggi. Aku kembali mengingat masa ketika aku hendak berangkat ke negeri ini, sebelum aku tertidur kembali.

Aku terbangun keesokan harinya ketika rekan sekamarku membangunkanku.
“Bangun Nak, sudah saatnya kita bekerja” katanya.
Aku mulai mengingat jadwal dan teringat bahwa jadwal hari ini adalah pembagian bantuan ke salah satu daerah di negeri itu. Aku segera mempersiapkan diri. Ketika aku tiba di depan hotel, ternyata sudah banyak relawan lain disana. Aku berkenalan dengan salah satu relawan dari negaraku yang bernama Maria dan Josie, mereka berdua adalah pasangan suami istri. Sepanjang perjalanan aku melihat daerah-daerah yang aku lalui dan mencatatnya dalam buku harianku. Ya, semua kegiatan dan pengalamanku aku tulis dalam sebuah buku harian yang mungkin nantinya aku bisa jual. Aku memang bermimpi untuk membuat sebuah buku. 30 menit berlalu akhirnya aku sampai di kamp pengungsian. Aku dan Budiman kebagian tugas memberikan baju dan makanan untuk anak-anak disini. Aku melihat Maria dan Josie sedang menghibur anak-anak. Josie pandai bermain sulap sedangkan Maria memiliki suara yang indah. Memang suasana masih mencekam, aku melihat banyak pasukan yang mengawal proses penyaluran ini, namun aku tidak  melihat ketakutan di wajah anak-anak itu. Ketika mengelilingi kamp itu, aku melihat ada seorang relawan yang mendapat tugas menjadi dokter, sepertinya ia juga berasal dari negara yang sama denganku, aku kaget melihat asistennya adalah seorang yang berkebangsaan Inggris. Aku kaget melihat fakta ini karena kemampuan dokter dari negeriku ternyata lebih baik dari negeri yang lebih maju, makmur dan sejahtera dari negeriku, aku selalu berpikir kalau orang-orang dari negeriku tidak akan pernah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari negara-negara maju, namun ternyata itu salah. Pembagian bantuan hari itu berjalan lancar, saya tidak melihat satupun pemberontak yang melintas atau suara tembakan dari para tentara. Dalam perjalanan pulang aku berbincang dengan dokter yang aku temui tadi.
“Hai, siapa namamu?” tanyaku
“Andi, Novandi.” jawabnya
“Oh, apa yang membawamu datang kesini?”
“Kemanusiaan, rasa kemanusiaan.”
“Oh. Sama denganku kalau begitu.
           
            Aku jadi teringat ketika teman-temanku bertanya apa alasanku datang kesini. Meskipun  orang tuaku menyetujui kepergianku, tapi tidak dengan teman-temanku. Mereka banyak yang menghujatku.
“Untuk apa kau ikut campur dalam masalah orang lain?” kata salah seorang temanku.
“Apakah kau pikir kau adalah pahlawan?” protes yang lainnya.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata mereka, mungkin mereka tidak mengerti kalau ini adalah keinginanku. Ketika mereka menyuruhku menjawabnya aku hanya bisa menggeleng.
“Jadi, kau kesana hanya untuk dipanggil pahlawan?”
“Tidak!” aku mulai merasa kesal.
Aku kesana untuk kemanusiaan, apa kalian tidak miris ketika melihat saudara kalian kelaparan disana sementara kalian bersenang-senang disini” jawabku kesal.
“Tapi tidak harus menjadi relawankan?”tanya seorang temanku, aku kembali terdiam.

Aku terus memikirkan hal itu sepanjang perjalanan pulang. Tanpa terasa kami telah sampai ke tempat penginapan. Aku segera berbaring di tempat tidur untuk beristirahat sejenak. Aku tertidur sekitar 1 jam, dan terbangun akibat bunyi rentetan senjata, bunyi senjata itu berhenti setelah lebih dari 15 menit terdengar bunyi kontak senjata. Setelah itu terdengar suara orang-orang berteriak dari bawah. Aku mengernyitkan dahi, rekanku Budiman juga sepertinya mulai takut, aku melihat mukanya sudah mulai pucat padahal biasanya ia yang paling tenang. Suara para pemberontak mulai mendekat, kita berdua mulai gugup. Pintu kamar mulai didobrak oleh para pemberontak. Tidak sampai 10 detik pintu itupun berhasil dirobohkan. Terlihat di depan kita 2 orang pemberontak bersenjata lengkap sedang mengarahkan senjatanya ke arah kita berdua. Mereka berteriak kepada kita berdua dengan bahasa mereka. Aku tidak mengerti namun rekanku Budiman tau apa yang mereka maksud. Mereka menyuruh kami kumpul di lantai bawah dan menunggu. Jarum-jarum jam pun sepertinya berhenti berdetak, kurasakan waktu berjalan begitu lambat. 15 menit berlalu dengan keheningan, aku melihat-lihat sekeliling ruangan, terdapat 1 orang pemberontak menjaga kita agar tetap tenang. Aku berbalik dan melihat Novandi berjalan mendekat ke arahku.
“Mari buat rencana.”
“Aku sedang merencanakannya.” jawabku
“Aku dapat.” jawabnya meresponku dengan cepat
Ia segera berbisik kepadaku. Kulihat penjaga itu mulai mencurigai kita.
“Apa kau yakin?”
“Sangat.” jawabnya percaya diri.

Kami menunggu sekitar 5 menit dan melihat para pemberontak sudah turun dari lantai atas. Mereka berbicara kepada kami, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Rekanku Budiman yang sudah berada di sampingku segera mengatakan padaku kalau para pemberontak menyuruh kita berkumpul di lantai atas dan mereka akan menjadikan kita sandera. Aku langsung tersentak kaget karena itu sudah sesuai dengan apa yang dipikirkan Novandi. Aku melihat ke arahnya dan ia tersenyum padaku. Pada saat para  kita dibawa ke lantai atas, aku dan Andi berada di barisan belakang agar dapat melaksanakan misi kita. Aku kaget ketika melihat di sampingku Andi telah menghilang, sejurus kemudian penjaga yang dibelakangku tadi juga menghilang. Aku segera pergi mencari Andi yang tiba-tiba menghilang, saat aku menemukannya, aku sudah melihatnya bersimbah darah dan di sampingnya tergeletak seseorang yang aku yakini adalah pemberontak yang tadi ada dibelakangku
“Apa mereka mati?”
Tentu saja, apa kau tidak melihat banyaknya darah di bajuku.” jawabnya.

Aku hanya bisa ternganga. Kita mengambil 2 senjata pemberontak dan pergi ke atas untuk menyelamatkan para sandera.
“Tunggu, apa kita tidak harus melapor kepada Pasukan PBB?”
“Ya, aku yang akan melapor.”
“Bagaimana caranya?”
Ia hanya terdiam dan aku pasti tau ia tidak bisa menjawabnya.
“Aku tidak tau caranya, sudahlah yang terpenting kita harus menyelamatkan mereka dulu.”
“Oke.”
Kita naik ke lantai yang paling atas dan melihat para sandera sedang dikumpulkan di suatu tempat. Dan melihat jumlah pemberontak sekitar 8 orang.
Apa kau tau cara menggunakan barang ini?” tanyaku.
Tinggal bidik dan tembak.”
“Begitu saja.”
Sudahlah, aku akan memberi aba-aba untuk menyerang.” Kata Andi memerintah.
“1, 2, serang”

Begitu mendengar aba-aba Andi, akupun langsung berdiri dari tempat persembunyiaanku dan membantu Andi menyerang. Terdengar suara tembakan dari segala arah, aku sudah tidak dapat melihat Andi, tapi aku melihat seorang pemberontak telah gugur. Sementara itu para sandera terlihat mencari tempat berlindung. Namun pada saat itu di salah satu sudut ruangan, aku jelas-jelas melihat rekanku Budiman sedang tergeletak tak bernyawa. Seketika itu juga badanku terasa lemas, Andi pun juga sudah tertangkap, dan terlihat mulutnya mengeluarkan darah. Pada saat itu juga, dari arah tangga-tangga datanglah 10 orang pemberontak. Mereka menodongkan senjata ke arahku. Tak berapa lama salah satu dari meseka mengambil sebuah balok kayu dan menghajarku tepat di wajah.
           
Aku ingat ketika pertama kali tiba di negara ini, ketika itu aku takjub melihat pemandangan di kota ini, begitu indah menurutku, pantai-pantai yang indah dan bersih, dan terdapat beberapa gunung yang menjulang kokoh yang membuat negara ini semakin indah, namun sayangnya keindahan negeri ini dirusak oleh sekelompok orang yang ingin menggulingkan presiden di negeri ini. Akhirnya meletuslah perang saudara di negeri ini. 3 tahun sudah berlalu namun perang ini belum berakhir hingga membuat PBB sampai turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Aku terbangun kira-kira 15 menit setelahnya, aku merasakan darah keluar dari mulut dan pipiku, namun itu tak seberapa dibanding dengan Andi, kondisinya lebih parah dariku, mukanya bersimbah darah, bajunya yang dulunya berwarna putih sekarang sudah berubah menjadi merah. Para pemberontak berbicara kepada kita dan mengatakan kepada kita kalau mereka ingin meminta tebusan untuk membebaskan kita. Aku bepikir kalau para pemberontak itu bodoh, karena dengan meminta uang tebusan maka PBB akan tau dan mengirim pasukan penyelamat. Dengan 2 orang yang tidak memiliki sejarah militer saja bisa membunuh 3 orang, bagaimana dengan 1 peleton tentara, itu pikirku. Salah seorang dari pemberontak mengambil handphone seseorang dan menelpon pusat pangkalan pasukan keamanan PBB. Selanjutnya aku tidak tau apa yang mereka bicarakan karena orang itu telah pergi meninggalkan ruangan. 15 menit kemudian ia kembali dan berbicara kepada kita dengan menggunakan bahasa Inggris. Ia mengatakan kalau PBB setuju melepaskan kita dengan imbalan 1 orang seharga USD 1 juta. Namun aku yakin kalau para pemberontak itu akan menerima bonus yang lebih membuat mereka terkejut, yah, apalagi kalau bukan pasukan khusus yang ditugaskan untuk membebaskan kita. Paling tidak kita harus menunggu sekitaran 1 jam untuk kedatangan mereka.
           
1 jam sudah berlalu dan belum ada tanda-tanda kedatangan dari pasukan itu. Aku mulai ragu jika pasukan yang membebaskan kami itu akan datang. 5 menit setelah itu aku mendengar suara helikopter dari kejauhan, harapanku kembali timbul. Dari luar juga aku mendengar suara beberapa mobil, mungkin juga itu mobil humvee milik para tentara. Suasana diantara para pemberontak pun mulai tegang, tampak raut ketakutan muncul di wajah mereka.
           
Praang.. Kaca jendela di sekeliling tempat kami pecah. Ternyata para pasukan memasuki tempat penyanderaan kita melalui jendela, yang membuat para pemberontak terkejut. Baku tembak di antara mereka pun tak terhindarkan. Banyak darah yang berceceran dan suara teriakan dimana-mana. Di tengah kekacauan itu, di sudut ruangan terlihat seseorang tergeletak, tampaknya sudah tak bernyawa. Aku begitu kaget ketika menyadari baju yang ia kenakan, tak salah lagi, itu Novandi. Aku berlari menuju arahnya, beberapa meter lagi sebelum sampai di tempatnya. Sebutir peluru menghujamku tepat di lengan kananku, aku terjatuh seketika. Aku melihat darah mulai membasahi lengan bajuku, perih sekali rasanya. Aku mencoba untuk bangkit kembali, namun sekali lagi sebutir peluru menghujamku tepat di kakiku, dan sekarang aku benar-benar tergeletak tak berdaya. 5 menit berlalu dan suasana terlihat sudah terkendali. Aku merasa di sinilah aku akan berakhir, aku jadi teringat keluargaku dan teman-temanku, mereka mungkin akan berharap aku kembali sama seperti saat aku pergi, tapi sepertinya aku kembali dengan membawa oleh-oleh sebuah peti mati. Tampak seseorang datang ke arahku dan ia tampak menutup lukaku dengan kain agar menghentikan pendarahanku, setelah selesai ia memanggil rekan-rekannya yang lain, mereka menuju ke arahku dengan membawa sebuah tandu, mereka mengangkatku dengan menggunakan tandu ke sebuah mobil ambulans. Sepertinya nyawaku sudah terselamatkan, aku bersyukur karenanya. Dan dalam perjalanan mobil ambulansku menuju ke satu-satunya rumah sakit yang ada di negeri ini, aku berjanji, aku akan kembali ke negara ini sebagai wisatawan, bukan sebagai relawan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar